Kamis, 10 April 2008

Film Animasi SING TO THE DAWN di CONCEPT magazine

Numpang lewat:

Ada berita film Animasi "SING TO THE DAWN"
di CONCEPT MAGAZINE terbaru lho, edisi 22

Cari aja di toko buku terdekat:
gramedia, gunung agung, aksara, kinokuniya.

"SING TO THE DAWN" - 99% made by Indonesian artist lho. 

__,_._,___



Senin, 07 April 2008

Parade Film Gratis tentang Perjuangan Wanita

Bulan ini kita akan menyaksikan usaha para perempuan dari berbagai penjuru dunia untuk memperjuangkan perdamaian.Selain menyaksikan perjuangan para perempuan ini, kita juga akan melihat film-film cerita terbaik dari Afrika. Film-film ini adalah pemenang penghargaan Yennenga Stallion, barometer bagi film-film terbaik dari benua ini. Selain itu, kita juga akan menyaksikan bersama film-film cerita dari Jepang dan Italia, semuanya bercerita tentang atau dari perspektif perempuan dari generasi yang berbeda-beda.

Dalam bulan April kita juga akan menonton dan berdiskusi tentang karya pembuat film Prancis yang eksentrik tapi mungkin jarang kita dengar di Indonesia, Maurice Pialat. Rémi Fontanel, seorang spesialis. karya-karya Maurice Pialat, akan memberi pengantar dan berdiskusi tentang estetika, tujuan dan modernitas dalam karya film A nos amours (1983).

Selamat menonton dan berdiskusi di kineforum!

WORLD CINEMA FEATURES
Senin, 7 April 2008
14.15 : Buud Yam
17.30 : Guimba : Un Tyran, une époque
19.30 : Au Nom du Christ

Selasa, 8 April 2008
14.15 : Tilaï
17.30 : A Republic For Sale ( Hanya untuk undangan)
19.30 : Baara

Rabu, 9 April 2008
14.15 : Pièces d'identités
17.30 : Buud Yam
19.30 : Guimba : Un Tyran, une époque

Kamis, 10 April 2008
14.15 : Au Nom du Christ
17.30 : Tilaï
19.30 : Baara

Jumat, 11 April 2008
14.15 : Guimba : Un Tyran, une époque
17.30 : Pièces d'identités
19.30 : Buud Yam

Sabtu, 12 April 2008
14.15 : Baara
17.30 : Au Nom du Christ
19.30 : Tilaï

Minggu, 13 April 2008

14.15 : Buud Yam
17..30 : Guimba : Un Tyran, une époque
19.30 : Pièces d'identités

Sinopsis :
WORLD CINEMA FEATURES

Au Nom du Christ, 82 menit, (Bahasa Prancis dengan subtitel Bahasa
Inggris).Sutradara Roger Gnoan M'Bala. Pemain: Pierre Gondo, Naky Sy
Savané, Akissi Delta UNTUK 13 tahun keatas

Di sebuah desa kecil hiduplah seorang penggembala babi miskin. Suatu
hari ia mabuk berat dan mendapat wangsit bahwa ia adalah "anak Tuhan"
yang dipilih untuk menyelamatkan manusia. Ia menjadi Magloire Pertama,
sepupu Yesus, dan menggunakan kepintarannya untuk mempengaruhi
masyarakat sekeliling serta membentuk sekte...

Fespaco 1993, Grand prix Etalon de Yennenga; Prix Afrique en Création,
Ouagadougou 1993, Prix coopération française pour le cinéma 1993,
Locarno 1993, Prix spécial de la jeunesse; Perugia 1994, Grand prix,
Milan 1994, Prix spécial du jury; Vues d'Afrique Montréal 1994, Grand
Prix, Durban International Film Festival 2002

Baara (1979), 93 menit, (Bahasa Bambara dengan subtitel Bahasa
Inggris). Sutradara Souleymane Cissé. Pemain: Bala Moussa Keïta, Baba
Niaré, Boubacar Keïta UNTUK 13 tahun keatas

Seorang petani dari Mali bekerja sebagai "baara" alias porter di
Bamako. Suatu hari, ia berteman dengan seorang insinyur muda. Insinyur
ini melindunginya, membantu memecahkan persoalannya dengan polisi, dan
membantunya meninggalkan dunia jalanan untuk bekerja di pabrik.

Etalon de Yennenga, FESPACO 1979.; Tanit d'or, grand prix de
l'humanité, prix de la meilleure interprétation masculine, 7ème
journées, cinémathographiques de Carthage.; Grand prix du jury, prix
de la presse, FIFEF Namur.; Grand prix de la meilleure photographie,
mention spéciale de l'OCIC, 31ème festival de Locarno

Buud Yam (1997), 99 menit, (Bahasa More dengan subtitel Bahasa
Inggris). Sutradara Gaston J-M Kaboré. Pemain: Serge Yanogo,Amssatou
Maiga, Sévérine Oueddouda, Colette Kaboré, Augustine Yameogo, Boureïma
Ouedraogo UNTUK 13 tahun keatas

Di tepi sungai Nigeria pada abad ke-19, Wend Kuuni, pemuda yatim
piatu, diduga pembawa sial, pergi berpetualang untuk menemukan tabib
yang dapat menyembuhkan saudari tirinya yang terjangkit penyakit
misterius dan mematikan.

Etalon de Yennenga Fespaco 1997

Guimba : Un Tyran, une époque (1995), (Bahasa Bambara dengan subtitel Bahasa Inggris). Sutradara Cheick Oumar Sissoko. Pemain: Falaba Issa Traoré, Bala Moussa Keïta, Habib Dembele, Lamine Diallo UNTUK 13 tahun keatas

Sitakili, ibukota Sahel, diduduki oleh Guimba Dunbaya beserta anaknya
Janguiné. Kani Coulibaly dijodohkan dengan Janguiné sejak kecil.
Sebagai gadis cantik, ia menjadi incaran banyak orang tetapi tidak ada
yang berani karena Guimba suka meneror.

Etalon de Yennenga, Prix des meilleurs costumes et décors Fespaco 1995.

Il Piu Bel Giorno Della Mia Vita / The Best Day of My Life (2002), 102
menit, (Bahasa Italia dengan subtitel Inggris). Sutradara Cristina
Comencini. Pemain: Virna Lisi, Margherita Buy, Sandra Ceccarelli,
Luigi Lo Cascio, Maria Luisa De Crescenzo. UNTUK DEWASA

Kisah tentang keluarga yang mengalami krisis dalam hubungan antara
anggotanya, dilihat dari sudut pandang Chiara – gadis muda yang akan
segera menjalani komuni pertamanya. Keluarga ini memiliki Irene, figur
perempuan matriarkh yang kuat dengan tiga orang anaknya yang sudah
dewasa.  

Grand Prix des Amériques at the Montréal World Film Festival 2002,
Silver Ribbon for Best Screenplay and Best Supporting Actress from the
Italian National Syndicate of Film Journalists 2002, Grand Prix at the
Créteil International Women's Film Festival 2003

Linda, Linda, Linda (2005), 114 menit, (Bahasa Jepang dengan subtitel
Bahasa Indonesia). Sutradara Nobuhiro Yamashita. Pemain: Du-na Bae,
Aki Maeda, Yu Kashii, Shiori Sekine, Takayo Mimura UNTUK 13 tahun keatas

Tiga anak perempuan membentuk kelompok musik rock untuk festival
sekolah. Rencana mereka terancam karena gitaris kelompok ini pergi
karena merasa main gitar telah melukai tangannya. Mereka juga
kesulitan mencari vokalis sampai akhirnya memilih teman sekolah mereka
yang berasal dari Korea dan bahkan hampir tak bisa berbahasa Jepang,
apalagi menyanyi. Tapi kesulitan mendirikan kelompok musik ini
mengajari mereka banyak hal.  

Best Director Japanese Professional Movie Award 2005, Nominee for
Chlotrudis Award for Independent Films, USA 2008

Pièces d'identités (1999), 97 menit, (Bahasa Prancis dengan subtitel
Bahasa Inggris). Sutradara Mweze Dieudonné Ngangura. Pemain: Gérard
Essomba, Herbert Flack, Dominique Mesa, Dieudonné Kabongo, Cécilia
Kankonda UNTUK SEMUA UMUR

Mani Kongo, raja tua dari pedalaman Kongo, pergi mencari putrinya
Mwana dikirim ke Belgia ketika berumur 8 tahun dan tidak ada kabar
berita. Raja tersebut tidak ingin meninggalkan akar budaya-nya sama
sekali.

Etalon de Yennenga, Prix de la meilleure interprétation féminine
Fespaco 1999

Respiro (2002), 95 menit, (Bahasa Italia dengan subtitel Inggris).
Sutradara Emanuele Crialese. Pemain: Valeria Golino, Vincenzo Amato,
Francesco Casisa, Veronica D'Agostino, Filippo Pucillo. UNTUK DEWASA

Grazia (Golino) adalah seorang ibu dari tiga anak yang berjiwa bebas.
Ia menikah dengan Pietro (Amato) seorang nelayan pemalu dan tinggal di
pulau terpencil Lampedusa di laut Mediterania. Ia menunjukkan gejala
manic depressive sehingga keluarganya ingin memasukkannya ke perawatan
pasien kejiwaan. Ia melarikan diri dan bersembunyi di sebuah gua di
dekat pesisir.

Critics Week Grand Prize and the Young Critics Award Cannes Film
Festival 2002, nominasi Best European Union Film at the César Awards 2004

Tilaï (1991),81 menit, (Bahasa More dengan subtitel Bahasa Inggris).
Sutradara Idrissa Ouédraogo. Pemain: Rasmané Ouédraogo, Ina Cisse,
Roukietou Barry, Assane Ouédraogo UNTUK 15 tahun keatas

Saga kembali ke desanya setelah dua tahun menghilang. Segalanya
berubah. Nogma, tunangannya, jadi istri kedua ayahnya. Tapi Saga dan
Nogma masih saling mencintai. Mereka bertemu dan bercinta. Bagi
masyarakat, Saga melakukan inces dan dia harus mati.

Grand Prix Cannes Film Festival 1990, Etalon de yennenga et Prix de la
meilleure musique Fespaco 1991
Kineforum Studio 1 Studio 21 TIM, Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat
10330. Tel. 021-3162780 (Petrus) email: kineforumdkj@yahoo.co.id  
website: www.dkj.or.id   

Program ini adalah kerjasama kineforum dengan Komnas Perempuan, RAHIMA, PEKKA dan Jaringan Perempuan Perdamaian Indonesia (PWAG Indonesia). Organisasi ini bekerja untuk perbaikan kehidupan dan harkat perempuan baik di komunitasnya maupun Indonesia secara keseluruhan.
Lihat jadwal bulanan dan program pemutaran kineforum di blog:


Rabu, 02 April 2008

SCREENING FILM DOKUMENTER “NOT FOR SALE !”

Judul Film:
NOT FOR SALE !

Sebuah Dokumentasi tentang perjuangan Serikat Pekerja di Indonesia
menghadapi proyek privatisasi yang menjadi agenda kapitalisme global

Produksi
Public Services International dan Media Nusa Communication, 2008

Produser: Wilson, Fendry Ponomban, FX Supiarso. Editor: Andreas Sitompul.
Juru Kamera: Fendry Ponomban, Andreas Sitompul. Riset: Wilson, FX. Supiarso.
Format: Mini DV, PAL, 16:9 (wide screen)
Running time: 40 menit

Screening

Selasa, 8 April 2008,
Kineforum, Studio 1
Taman Ismail Marzuki (TIM),
Jl.Cikini Raya No. 73 Jakarta 103310.
Pukul. 17.30-20.00 WIB.

Rabu, 23 April 2008,
GoetheHaus,
 Jl.Sam Ratulangi 9-15, Menteng, Jakarta
10350.phn.021-235 502 08

Pukul 17.00-20.00 WIB

====================
Sinopsis NOT FOR SALE !

Sejak Indonesia mendatangi Letter of Intent (LoI) dengan IMF pada tahun
1998, serangkaian program lembaga keuangan itu beroperasi dan dipaksakan
menjadi kebijakan ekonomi pemerintahan Indonesia. Akibatnya ekonomi
Indonesia semakin dipaksa untuk diliberalkan dan diprivatisasi.

Dokumentasi ini menceritakan bagaimana para anggota Serikat Pekerja di
 berbagai BUMN menghadang agenda-agenda liberalisasi di sektor-sektor publik.
Inilah kisah-kisah yang tidak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Kisah
pertarungan dan konsistensi serikat pekerja untuk tetap mengawal republik
yang sudah dan akan terus digadaikan oleh para penguasa yang pragmatis.

Format: Mini DV, PAL, 16:9 (wide screen)
Running time: 40 menit

Kontak panitia;
Nita, sekretariat PSI
Phn 021-350 3060
Email supiarso@gmail.com
medianusacom@gmail.com

NOT For SALE !

KISAH SERIKAT PEKERJA MENGHADANG PENJAJAHAN BARU

Proses integrasi negara-nagara berkembang kedalam perekonomian global berada
dalam hubungan yang timpang dan berat sebelah. Negara-negara maju dengan
dukungan Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), World Trade
Organization (WTO) dan perusahaan multi nasional mendikte proses
liberalisasi ekonomi dan privatasasi dengan skenario dan syarat-syarat yang
merugikan harkat, martabat, kemandirian, kepentingan nasional dan rakyat
negara-negara berkembang. Seluruh proyek privatisasi dan liberalisasi yang
dijalankan di negara-negara berkembang, seperti juga di Indonesia, lebih
tampak sebagai sebuah bentuk penjajahan baru atas sebuah bangsa daripada
hubungan ekonomi yang adil.

Indonesia sejak proses reformasi 1998 semakin terjerembab dalam lingkaran
setan proses privatisasi dan liberalisasi sebagai konsekuensi dari
penghambaan kepada kepentingan kapitalisme. Para penguasa dan elit politik
dinegeri ini lebih cenderung menjadi agen privatisasi dan liberalisasi
aset-aset ekonomi yang dikelola dan dimiliki negara dengan
pertimbangan-pertimbangan hukum pasar semata. Akibatnya soal kemandirian
bangsa dan kepentingan publik seperti yang diatur dalam pasal 33 UUD 1945
menjadi terabaikan.

"Not For Sale" adalah sebuah dokumentasi untuk memahami kondisi hubungan
perekonomian dan perburuhan kontemporer di bawah dominasi kapitalisme global
dan respon kaum pekerja sektor publik di Indonesia untuk menghadapinya.

Film ini diproduksi dengan dukungan dan partisipasi dari para aktivis
serikat pekerja yang bergabung dalam Serikat Pekerja PLN, Serikat Pekerja
Angkasa Pura I, Serikat Pekerja Pembangkit Jawa-Bali, Serikat Pekerja
Farmasi dan kesehatan, Persatuan Pegawai PT Indonesia Power dan Serikat
Pekerja PDAM.

Film ini juga menampilkan pandangan para intelektuil kritis yang prihatin
dengan proses terjun bebas privatisasi yang sedang disponsori oleh Negara.
Bahkan Dr. Revrisond Baswir dari Universitas Gadjah Mada secara sarkas
menjuluki privatisasi sebagai "rampokisasi".
Harapan kami, " Not For Sale !" dapat mengingatkan rakyat Indonesia, bahwa
soal menghadang privatisasi adalah tugas bersama rakyat Indonesia untuk
menegakan martabat dan kemandirian bangsa yang merdeka sebagaimana
dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini.

Penyelenggara:
Public Services International,
Dewan Kesenian Jakarta
Media Nusa Communication,
Kineforum
Perkumpulan Praxis,
Voice of Human Rights (VHR)

Selasa, 18 Maret 2008

Bedah Buku Sepatah Kata Kotor: Sekularisme di Asia

UNDANGAN DISKUSI BUKU

Rabu, 19 Maret 2008, pukul 09.30 WIB
Bedah Buku Sepatah Kata Kotor: Sekularisme di Asia
Pembicara: Frans Magnis-Suseno dan Jalaluddin Rakhmat
di Aula Madya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat
Kerjasama dengan BEM UIN

Sabtu, 22 Maret 2008, pukul 13.00 WIB
Bedah Buku Kandang dan Gelanggang: Sinema Kontemporer di Asia Tenggara
Pembicara: Arya Gunawan dan Veronica Kusuma
Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki
Kerjasama dengan rumahfilm.org dan Kine Forum

Senin, 31 Maret 2008, pukul 17.00 WIB
Bedah Buku Sepatah Kata Kotor: Sekularisme di Asia
Pembicara: Bambang Sugiarto dan Yudi Latif
Filsafat Universitas Parahyangan Bandung
Kerjasama dengan Nalar Institute

Kamis, 06 Maret 2008

Call for entries Coney Island Film Festival

indiefilmpage.com and Coney Island USA present the 8th annual Coney Island
Film Festival September 26- 28, 2008 at Sideshows by the Seashore and The
Coney Island Museum in the historic Brooklyn neighborhood Coney Island, New
York!

Regular Deadline April 25th, 2008 (postmarked) $25 entry fee.
Late deadline June 25th, 2008 (postmarked)
Extended late deadline July 3rd, 2008 (postmarked)

Enter early and save on the entry fee.

The Coney Island Film Festival is open to filmmakers working in ALL GENRES,
SUBJECTS AND FORMATS.

http://www.coneyislandfilmfestival.com
http://www.withoutabox.com/login/3441
http://www.coneyislandfilmfestival.com/entryform2.html

Rabu, 05 Maret 2008

Workshop Film Dokumenter untuk Bioskop

Documentary Cinema Workshop  2008
"INDONESIA - TEN YEARS AFTER REFORMASI"
proposed by the Goethe-Institut Indonesien
Tutor: Sebastian Winkels
Project Manager: Lisabona Rahman

Workshop profile
The workshop addresses equally to film directors, as well as to writers cinematographers, sound recordists and editors who are dedicated to develop professional skills in the artistic documentary field. The focus of the workshop is to improve the approach of storytelling, narrative structure, perspective, visual language, rhythm and technical apects of Indonesian documentaries in order to find better access to the international festival market.
 
The goal of the workshop is to produce three full length documentaries for cinema to be screened on JIFFest 2008. The films will be shot in HDV or DVCPRO HD.   Participants should apply by presenting former documentary (or other) works, directors/writers should also include their intended project ideas (outline status).
If possible they should apply together with their team (cinematography/sound/editing).

Passive English language competence is required.

Up to twenty workshop participants (five film teams) can join. Each team develops one documentary project until treatment status. Three projects will then get selected and go into production.

The workshop is divided into five sections.
The timeframe of the workshop is from April until December 2008.

Workshop structure
1) Theoretical Part (April, 3 weeks)
Introduction of different documentary film genres. Screenings & discussions.
Introduction to film analysis.
Presentation and discussion of Indonesian documentaries (also: former works of participants). Comparison with international films of similar genre or topic.
Focus on storytelling, different use of stylistic means, shooting methods and technical aspects. Presentation of new project ideas (outlines)
Discussing, writing and presenting the new projects exposés.
Defining further research methods and goals.

Between workshop section 1 and 2:

Individual project research.

2) Writing of treatments (June, 3 weeks)
Presentation of research results. Accompanied research (trips). 
Story development. Additional screenings of film references and discussions.
Pre-visualize the project: defining the narrative approach of directing, cinematography, sound & editing, use of formats/stylistic means, technical aspects.
Writing the treatments.
Meeting the producers. Pitching and discussing the treatments with them (Specification of production needs. Set up Budget Plans & shooting schedules).
Selection of projects to be produced.
Practical exercises with professional shooting equipment (The selected teams
are shooting a sample scene).

Between workshop section 2 and 3:

Editing of sample scenes.
Pre-production of shooting phase.

3) Shooting phase (August, 3 weeks)
Presentation and discussion of sample scenes.
Preparation of shooting phase (together with the producer). 
Parallel shooting of documentaries starts. Maximum shooting period is five weeks.
Installation of editing facilities.

Between workshop section 3 & 4:
 
Shooting finishes until mid September.
Start the editing process: Digitizing, viewing, organizing and transcribing the material. Editing a first rough cut.

4) Editing phase 1 (October, 3 weeks)
Presentation and discussion of rough cuts.
Intensive editing process, evaluating and solving dramaturgy problems, defining narrative structures.


Between workshop section 4 & 5:
Editing continues.

5) Editing phase 2  & Presentation at JIFFest (November, December 4 weeks)
Finishing the final cuts.
Preliminary online status: sound editing, mix down, color matching.
Translation and subtitles.
Play out on HDV Tape or better format.
Prepare a presskit.
Premiere at JIFFest.

!!Definetely Maybe!!
6) Postproduction of sound and picture during Berlinale Talent Campus (February 2009)
Eventually transfer one or all three projects to Berlin and work with professional sound editors, mixing engineers and online editors to finish the films according to international quality standard. Showcase the works to an international audience and professional partners.

Dutch Film-makers Butuh Researcher/PA

There are two Dutch film-makers who plan to make a documentary about Indonesian Resistance against Japanese 1942-1945. There will be three sides of the story: Dutch, Japanese and Indonesian.
They would like to film about PETA Revolt in February 1945 against Japanese in Blitar.
So, these Dutch film-makers need a Researcher/Production Assistant who:
- speaks and writes excellent English
- understands their needs in film-making
- can find the historians and veterans about this subject
- can find the access for pictures and film footage about the revolt.

They will come to Indonesia end of May or beginning of June. They will be filming in Blitar for a few days.
Anybody who is interested in this position, please send CV to Ria Ernunsari in bhooly@hotmail.com not later than 15 March 2008.

Thank you,

Ria Ernunsari

Sabtu, 01 Maret 2008

Nonton Gratis & Bincang Film Sepakbola di Makassar, 2 Maret 2008

Sepakbola dan Film adalah dua hal berbeda, keduanya memiliki
peminatnya masing-masing. Namun keduanya bukanlah hal yang saling
bertolak belakang, ada garis singgung yang dapat mempertemukan mereka.
Film dapat berfungsi sebagai media untuk menyajikan dan mengupas
segala fenomena dalam dunia sepakbola.
Kafe Ininnawa, - yang hadir untuk memberi ruang bagi lahirnya dialog
tentang apa saja-, bermaksud menyelenggarakan Nonton dan Bincang Lepas
seputar Film dan Bola. Sekaitan dengan itu, kami sebagai penyelenggara
mengundang Saudara untuk hadir dalam kegiatan tersebut


Nama : Nonton dan Bincang seputar Film dan Bola
Waktu : 02 Maret 2008 Pukul 19.00 wita
Tempat : Kafe Ininnawa Jl. Perintis Kemerdekaan Km 9 No 76
(Depan Showroom Mercedes Benz) Tamalanrea, Makassar
Acara :

a. Pemutaran Film
- The Jak (Andibachtiar Yusuf)
- Jangan Ada Kusta di Antara Kita (M. Aan Mansyur)
- Pagar (Adhietya Armstrong)

b. Bincang Lepas
- Andibachtiar Yusuf (Filmmaker dan Pengamat Bola)
- Ocha Halim (Pendiri dan Perdana Menteri The Maczman)

Gratis


lets working together for better a new world

Mansyur Rahim
Jl. Perintis Kemerdekaan 9 no 76
    (Depan Mercedes Benz PT. Timur Permai)
    Tamalanrea, Makassar 90245
    Telpon: 0411-586.459
    Mobile: 0411-577.3388

Senin, 25 Februari 2008

UNDANGAN DISKUSI PUBLIK & PEMUTARAN FILM

UNDANGAN DISKUSI DAN PEMUTARAN FILM

"Membangun Gerakan Rakyat Non Kooptasi"
(Belajar Dari Gerakan Mahasiswa 98)

Kepada
Yth. Organisasi Mahasiswa dan Pro Demokrasi
Di tempat

Salam Solidaritas!

Gerakan mahasiswa 98 atau lebih dikenal sebagai gerakan reformasi telah memberikan banyak sumbangan bagi kemajuan demokrasi dan gerakan di Indonesia, keberhasilan gerakan reformasi menumbangkan rezim diktaktor Soeharto layak untuk mendapatkan penghargaan dengan segala kekurangannya. Banyak sekali pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh gerakan reformasi: stratak, pembangunan front/aliansi, issu, dsb.

Sekarang setelah 10 tahun reformasi, sudah empat pemerintahan silih berganti tetapi situasi politik, ekonomi,social dan budaya tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan, walaupun ruang demokrasi sudah terbuka tetapi itu saja belum cukup. Situasi ini wajar saja karena kita semua sudah tahu bahwa pemerintahan setelah era Soeharto pada prinsispnya adalah sama yaitu pemerintahan boneka imperialis, pemerintahan yang tidak menjalankan program-program rakyat miskin. Lalu bagaimana dengan pembangunan gerakan setelah reformasi? Kemana aktivis-aktivis reformasi? Mengapa begitu banyak –walaupun tidak semua—aktivis dan tokoh reformasi berlomba-lomba masuk kedalam partai-partai besar,yang politiknya mengabdi pada politik imperialis, partai sarang koruptor?

Apakah ada alternative? Apakah kita bisa membangun kembali politik rakyat tanpa terkooptasi oleh partai besar dan reformis gadungan? Seperti apakah formatnya? Menjelang Mei 2008, kami dari LMND-PRM, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, FNPBI-Merah ingin mengundang kawan-kawan semua untuk berbagi pikiran sehingga dapat menyumbangkan yang terbaik bagi rakyat Indonesia. Adapun acara diskusinya akan kami adakan pada:

Hari/tanggal : Selasa, 26 Februari 2008
Waktu          : 15.00 – 17.00 WIB
Tempat        : Galeri Publik
Jalan Diponegoro no 9 Menteng
Agenda       : Pemutaran film " Indonesian in Revolt" dan diskusi.
Pembicara  : Gregorius Wardoyo (FNPBI-Merah)
                      Sastro (Aliansi Buruh Menggugat

Demikian undangan dari kami, partisipasi dan kehadiran kawan-kawan akan sangat berarti bagi pembangunan gerakan di Indonesia.


Jakarta, 23 Februari 2008

LMND-PRM, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, FNPBI-Merah



Selasa, 08 Januari 2008

Human Rights Film Festival workshop:how to organize film festival

I am writing to you on behalf of the Amnesty International Film Festival organized by the Foundation Movies that Matter. Coming Spring the 10th Film Festival will be held in Amsterdam, from 26 to 30 March 2008. The festival screens both documentaries and feature films. In discussions and talk shows surrounding the films, the filmmakers, human rights activists and audience will have the opportunity to exchange ideas and views. During the festival we will organize the 2nd edition of a special outreach project called Cinema without Borders that aims to stimulate the organization of human rights film events in the countries where they matter most: Africa, Latin America, Asia and the former Soviet Union countries.


We are inviting 15 qualified guests representing these countries from the field of cinema and human rights who have realistic plans to set up a human rights film event in their own region but who lack professional, communicative and financial measures. Our guests will have the opportunity to see all the latest film productions at the Film Festival.


The most essential part of the Cinema without Borders project will contain several practical and inspiring workshops on how to organize a human rights film festival. Questions to be discussed are:


- where do we start when organizing a human rights film event?
- how do we fund a festival?
- what films should be screened?
- how do we get the films?
- how do we deal with film rights?
- how can we make use of the human rights film network?
- how do we set up an educative program for schools?
- how to make the festival successful on the long term?


The workshops will be led by Dutch and international festival directors, experts on film education, members of the human rights film network and are meant to exchange thoughts and ideas with motivated people from all different backgrounds. In addition we will have a video library with around 150 documentaries and features on human rights, including items produced by Amnesty International. After the festival we would like to stay in contact to advise and assist our guests in their festival activities.


I would like to enquire in what way you have been working with the visual media in relation to human rights, and most importantly, if you are able and willing to partici
pate in our Cinema without Borders project. If you are interested in working with us, please send us as soon as possible a motivation letter, your CV and a short proposal of the festival plan you aim to realize. Please inform us about your ideas, purposes and questions in the process of organizing a human rights film event in your region.

I am v
ery much looking forward to hear from you.

Kind regards,

Suzanne Hoeksema
S.Hoeksema@moviesthatmatter.nl


STICHTING MOVIES THAT MATTER & AMNESTY INTERNATIONAL FILM FESTIVAL
Tel. : +31 20 7733623
Fax : +31 20 6240889
Internet : http://www.moviesthatmatter.nl/ & www.amnesty.nl/filmfestival