Selasa, 15 April 2008

Pemutaran film pendek Prancis-Indonesia & diskusi bersama Rémi Fontanel

Pusat Kebudayaan Prancis – CCF Jakarta mempersembahkan
MYTHOLOGIE(S) DE MON VOISIN
Pemutaran film pendek Prancis-Indonesia
& diskusi bersama Rémi Fontanel


Sabtu, 19 April 2008 pukul 15.00 WIB
di Sinema CCF Jakarta
Jalan Salemba Raya 25 Jakarta Pusat 10440

Masuk bebas
Bekerjasama dengan Festival Sinema Prancis, program à courts d'écran
kali ini akan menampilkan koleksi dari Mythologie(s) de mon voisin,
sebuah asosiasi yang memfasilitasi sutradara muda untuk mempromosikan
karyanya dengan mengkompilasikan karya-karya mereka dalam DVD untuk
didistribusikan
keseluruh dunia. Program ini juga menyertakan dua film pendek Indonesia
dan diskusi bersama Rémi Fontanel, salah satu pendiri asosiasi
Mythologie(s) de mon voisin.

Mythologie(s) de mon voisin : www.mdmv.net

SINOPSIS
Kulihat Tamanku
Renas Makki | Fiksi | 3'02" | Gnosis Film | 2004

Di sebuah rumah kosong, seorang ayah menghadapi kenyataan pahit bahwa
saat ini, bayinya yang baru saja lahir sedang sekarat.

Mythologie de mon voisin
Violaine Tatéossian | 4 min. | DV

Tetanggaku... tiap malam... siapa dia?

La vie après la mort d'Henrietta Lacks
Mathias Théry | 24 min. | DV

Manuel, peneliti penerbangan, adalah seorang pemuda simpatik, lucu dan
kekanak-kanakan. Baginya, praktek ilmiah ada hubungan dengan khayalan.

Une journée de -Lucie
Laurent Charles | 5 min. | 16 mm.

Dari diculik, menjadi perempuan yang abadi, seharian penuh, sebuah
hidup,
lintasan, perjalanan...

Pop
Adrian Kukal | 6 min. | DV

Setiap pagi, rutinitas yang sama...

Dernière sonate au clair de lune
Morgan Rauscent | 14 min. | DV

Sonata sinar rembulan terakhir dapat menjadi sebuah halaman tertentu
dalam
sejarah perfilman, sebuah film tak biasa yang terlupakan dan
direstorasi...

Mon beau sourire
Angèle Diabang Brener | 4 min. | DV

Kadangkala kita harus sedikit berkorban untuk menjadi cantik

Les enfants de Roberto
Laurent Charles | 10 min. | DVCAM

Sebuah pendekatan perbandingan dari data ekonomis dan teknis dari film
independen...

Reason to Live and the Simplest way to die - Seperti Ikan
Moonaya | Fiksi | 4'30" | 2006

Film ini menggambarkan rasa tertutup dan terasing karena tidak menerima
keragaman di sekitar. Di sini dengan kontras digambarkan perpaduan
gambar realita Jakarta dengan rangkaian gambar puitis.

EPILOG

à courts d'écran adalah sebuah program yang memfasilitasi pembuat film
pendek Indonesia-Prancis melalui pemutaran film serta diskusi untuk
menciptakan ruang apresiasi bagi pembuat film pendek dan publik. CCF
Jakarta membuka ruang bagi pembuat film pendek Indonesia untuk terlibat
dalam program ini. Pembuat film pendek Indonesia dapat mengirimkan karya
ke CCF Jakarta untuk dikurasi dan ditampilkan dalam satu program
pemutaran. Program pemutaran dilakukan sebulan sekali di CCF Salemba
serta tempat lainnya.

à courts d'écran
Pusat Kebudayaan Prancis - CCF Jakarta
Jalan Salemba Raya no. 25 Jakarta Pusat 10440
Tel (021) 390 77 16, 390 85 85
Fax (021) 390 85 86
acourtsdecran@ccfjakarta.or.id
http://acourtsdecran.wordpress.com
http://www.ccfjakarta.or.id

CALL FOR PAPERS - 5th Annual Southeast Asian Cinemas Conference (ASEACC)

5th Annual Southeast Asian Cinemas Conference (ASEACC) STATES OF INDEPENDENCE

The first decade of the 2000s has seen a stunning upsurge of independent cinema in a number of Southeast Asian countries. This development has been one of the motivations of the Annual Southeast Asian Cinemas Conference (ASEACC), and this year we want to focus completely on the issue of identity. We invite contributions that address the somewhat contentious notion of "independent cinema" from different theoretical and methodological angles. The concept of "independent cinema" means something very different in the emerging countries of Southeast Asia than in the US or Western Europe, and we want to tease out some of the particular qualities of independent cinema in the region.
 
We want to ask what "independence" means in countries, where the commercial film industry is slowly bleeding to death, but where the distribution is often dominated by commercial chains that are rather disinclined to show independent films. We are interested in papers about the situation of independent distribution channels, be it
 "microcinemas" in galleries, socio-cultural centers or people's living rooms, or on the Internet. We are looking for contributions that address the specific aesthetics of independent films from the region. In particular, we encourage papers that study the work of individual independent filmmakers or analyse specific indie films. Finally, we will focus on the situation in this year's host country, the Philippines. As is our tradition, filmmakers will participate in open forums and screen their works.
 
NEW MEDIA
Another focus of this year's conference will be the role of technology and "new media" in the creation of an alternative "mediascape" in the region. We invite papers that examine the influence of digital technology on the film language that Southeast Asian film makers are developing.
 
SOUTH EAST ASIA AND EUROPE
We are also encouraging contributions that engage with historic aspects of dependence and independence, such as the colonial legacies of some European countries in Southeast Asia or more contemporary inter-dependencies between Europe and Southeast Asia (for example, the policies of European film festivals, funding bodies or production companies such as the Rotterdam Film Festival, the Hubert Bals Fund, Fortissimo, etc).
 
OTHER TOPICS
Alternative funding/distribution channels and bodies
Issues of identity and representation in independent film
Interdisciplinary approaches in alternative media production
Independent film and the mainstream
Festivals and grant-giving bodies
The Local and the Global
Independent film in the Philippines
 
5TH ANNUAL SOUTHEAST ASIAN CINEMAS CONFERENCE (ASEACC).
STATES OF INDEPENDENCE
Manila, The Philippines,
November 27 – 29, 2008
 
Please send an abstract (max. 500 words) of your proposed paper to one these members of the program committee of the conference:
Dr. Rolando B. Tolentino: magpaubaya@yahoo.com
Dr. Sophia Harvey: sophfeline@earthlink.net
Dr. Gaik Cheng Khoo: gaik.khoo@gmail.com
Dr. Tilman Baumgärtel: mail@tilmanbaumgaertel.net
 
DEADLINE: May 21, 2008
 
We are currently attempting to get funding for travel subsidies and accommodations but cannot offer any as yet. Prospective participants are strongly encouraged to secure their own travel funding. We are also trying to get discounted hotel and dorm rooms for conference participants.
The conference will be accompanied by screenings of selected independent films from Southeast Asia from November 25 – 26 and on November 30, 2009.
 
For more information on the conference visit our website:


Senin, 14 April 2008

Undangan Pemutaran film & Diskusi Jaringan Perempuan Perdamaian PWA

Peace Women Across the Globe & Kineforum DKJ

mengundang anda hadir pada:

Pemutaran film jaringan Perempuan Perdamaian (Peace Women Across the Globe)
21 - 27 April 2008
Jam 14.00, jam 17.30 & jam 19.00
di Studio 1, Kineforum, Bioskop di TIM, Cikini Raya, Jakarta Pusat
untuk detail sinopsis film yang diputar:
http://1000peacewomenindonesia.blogspot.com

Jadwal film detail:
http://kineforum.wordpress.com

Diskusi:
21 April 2008
jam. 15.30
Ngobrol bareng: Sr. Brigitta Renyaan, Peace Women dari Ambon

25 April 2008
jam 15.30
Ngobrol bareng: Kamala Chandrakirana (Ketua Komnas Perempuan) & Andi (producer Tala Bai)

Kami mengharapkan kehadiran rekan-rekan semua dan mohon memforward email ini kepada jaringan anda.
Kontak Panitia:
Sandie: 0817-669 4913
Ita: 0818 - 831115
Atau email kami: indonesia1000peacewomen@yahoo.com

Terimakasih banyak atas perhatiannya.

Salam,
Olin Monteiro
Koordinator Peace Women Across the Globe (PW

Kamis, 10 April 2008

Film Animasi SING TO THE DAWN di CONCEPT magazine

Numpang lewat:

Ada berita film Animasi "SING TO THE DAWN"
di CONCEPT MAGAZINE terbaru lho, edisi 22

Cari aja di toko buku terdekat:
gramedia, gunung agung, aksara, kinokuniya.

"SING TO THE DAWN" - 99% made by Indonesian artist lho. 

__,_._,___



Senin, 07 April 2008

Parade Film Gratis tentang Perjuangan Wanita

Bulan ini kita akan menyaksikan usaha para perempuan dari berbagai penjuru dunia untuk memperjuangkan perdamaian.Selain menyaksikan perjuangan para perempuan ini, kita juga akan melihat film-film cerita terbaik dari Afrika. Film-film ini adalah pemenang penghargaan Yennenga Stallion, barometer bagi film-film terbaik dari benua ini. Selain itu, kita juga akan menyaksikan bersama film-film cerita dari Jepang dan Italia, semuanya bercerita tentang atau dari perspektif perempuan dari generasi yang berbeda-beda.

Dalam bulan April kita juga akan menonton dan berdiskusi tentang karya pembuat film Prancis yang eksentrik tapi mungkin jarang kita dengar di Indonesia, Maurice Pialat. Rémi Fontanel, seorang spesialis. karya-karya Maurice Pialat, akan memberi pengantar dan berdiskusi tentang estetika, tujuan dan modernitas dalam karya film A nos amours (1983).

Selamat menonton dan berdiskusi di kineforum!

WORLD CINEMA FEATURES
Senin, 7 April 2008
14.15 : Buud Yam
17.30 : Guimba : Un Tyran, une époque
19.30 : Au Nom du Christ

Selasa, 8 April 2008
14.15 : Tilaï
17.30 : A Republic For Sale ( Hanya untuk undangan)
19.30 : Baara

Rabu, 9 April 2008
14.15 : Pièces d'identités
17.30 : Buud Yam
19.30 : Guimba : Un Tyran, une époque

Kamis, 10 April 2008
14.15 : Au Nom du Christ
17.30 : Tilaï
19.30 : Baara

Jumat, 11 April 2008
14.15 : Guimba : Un Tyran, une époque
17.30 : Pièces d'identités
19.30 : Buud Yam

Sabtu, 12 April 2008
14.15 : Baara
17.30 : Au Nom du Christ
19.30 : Tilaï

Minggu, 13 April 2008

14.15 : Buud Yam
17..30 : Guimba : Un Tyran, une époque
19.30 : Pièces d'identités

Sinopsis :
WORLD CINEMA FEATURES

Au Nom du Christ, 82 menit, (Bahasa Prancis dengan subtitel Bahasa
Inggris).Sutradara Roger Gnoan M'Bala. Pemain: Pierre Gondo, Naky Sy
Savané, Akissi Delta UNTUK 13 tahun keatas

Di sebuah desa kecil hiduplah seorang penggembala babi miskin. Suatu
hari ia mabuk berat dan mendapat wangsit bahwa ia adalah "anak Tuhan"
yang dipilih untuk menyelamatkan manusia. Ia menjadi Magloire Pertama,
sepupu Yesus, dan menggunakan kepintarannya untuk mempengaruhi
masyarakat sekeliling serta membentuk sekte...

Fespaco 1993, Grand prix Etalon de Yennenga; Prix Afrique en Création,
Ouagadougou 1993, Prix coopération française pour le cinéma 1993,
Locarno 1993, Prix spécial de la jeunesse; Perugia 1994, Grand prix,
Milan 1994, Prix spécial du jury; Vues d'Afrique Montréal 1994, Grand
Prix, Durban International Film Festival 2002

Baara (1979), 93 menit, (Bahasa Bambara dengan subtitel Bahasa
Inggris). Sutradara Souleymane Cissé. Pemain: Bala Moussa Keïta, Baba
Niaré, Boubacar Keïta UNTUK 13 tahun keatas

Seorang petani dari Mali bekerja sebagai "baara" alias porter di
Bamako. Suatu hari, ia berteman dengan seorang insinyur muda. Insinyur
ini melindunginya, membantu memecahkan persoalannya dengan polisi, dan
membantunya meninggalkan dunia jalanan untuk bekerja di pabrik.

Etalon de Yennenga, FESPACO 1979.; Tanit d'or, grand prix de
l'humanité, prix de la meilleure interprétation masculine, 7ème
journées, cinémathographiques de Carthage.; Grand prix du jury, prix
de la presse, FIFEF Namur.; Grand prix de la meilleure photographie,
mention spéciale de l'OCIC, 31ème festival de Locarno

Buud Yam (1997), 99 menit, (Bahasa More dengan subtitel Bahasa
Inggris). Sutradara Gaston J-M Kaboré. Pemain: Serge Yanogo,Amssatou
Maiga, Sévérine Oueddouda, Colette Kaboré, Augustine Yameogo, Boureïma
Ouedraogo UNTUK 13 tahun keatas

Di tepi sungai Nigeria pada abad ke-19, Wend Kuuni, pemuda yatim
piatu, diduga pembawa sial, pergi berpetualang untuk menemukan tabib
yang dapat menyembuhkan saudari tirinya yang terjangkit penyakit
misterius dan mematikan.

Etalon de Yennenga Fespaco 1997

Guimba : Un Tyran, une époque (1995), (Bahasa Bambara dengan subtitel Bahasa Inggris). Sutradara Cheick Oumar Sissoko. Pemain: Falaba Issa Traoré, Bala Moussa Keïta, Habib Dembele, Lamine Diallo UNTUK 13 tahun keatas

Sitakili, ibukota Sahel, diduduki oleh Guimba Dunbaya beserta anaknya
Janguiné. Kani Coulibaly dijodohkan dengan Janguiné sejak kecil.
Sebagai gadis cantik, ia menjadi incaran banyak orang tetapi tidak ada
yang berani karena Guimba suka meneror.

Etalon de Yennenga, Prix des meilleurs costumes et décors Fespaco 1995.

Il Piu Bel Giorno Della Mia Vita / The Best Day of My Life (2002), 102
menit, (Bahasa Italia dengan subtitel Inggris). Sutradara Cristina
Comencini. Pemain: Virna Lisi, Margherita Buy, Sandra Ceccarelli,
Luigi Lo Cascio, Maria Luisa De Crescenzo. UNTUK DEWASA

Kisah tentang keluarga yang mengalami krisis dalam hubungan antara
anggotanya, dilihat dari sudut pandang Chiara – gadis muda yang akan
segera menjalani komuni pertamanya. Keluarga ini memiliki Irene, figur
perempuan matriarkh yang kuat dengan tiga orang anaknya yang sudah
dewasa.  

Grand Prix des Amériques at the Montréal World Film Festival 2002,
Silver Ribbon for Best Screenplay and Best Supporting Actress from the
Italian National Syndicate of Film Journalists 2002, Grand Prix at the
Créteil International Women's Film Festival 2003

Linda, Linda, Linda (2005), 114 menit, (Bahasa Jepang dengan subtitel
Bahasa Indonesia). Sutradara Nobuhiro Yamashita. Pemain: Du-na Bae,
Aki Maeda, Yu Kashii, Shiori Sekine, Takayo Mimura UNTUK 13 tahun keatas

Tiga anak perempuan membentuk kelompok musik rock untuk festival
sekolah. Rencana mereka terancam karena gitaris kelompok ini pergi
karena merasa main gitar telah melukai tangannya. Mereka juga
kesulitan mencari vokalis sampai akhirnya memilih teman sekolah mereka
yang berasal dari Korea dan bahkan hampir tak bisa berbahasa Jepang,
apalagi menyanyi. Tapi kesulitan mendirikan kelompok musik ini
mengajari mereka banyak hal.  

Best Director Japanese Professional Movie Award 2005, Nominee for
Chlotrudis Award for Independent Films, USA 2008

Pièces d'identités (1999), 97 menit, (Bahasa Prancis dengan subtitel
Bahasa Inggris). Sutradara Mweze Dieudonné Ngangura. Pemain: Gérard
Essomba, Herbert Flack, Dominique Mesa, Dieudonné Kabongo, Cécilia
Kankonda UNTUK SEMUA UMUR

Mani Kongo, raja tua dari pedalaman Kongo, pergi mencari putrinya
Mwana dikirim ke Belgia ketika berumur 8 tahun dan tidak ada kabar
berita. Raja tersebut tidak ingin meninggalkan akar budaya-nya sama
sekali.

Etalon de Yennenga, Prix de la meilleure interprétation féminine
Fespaco 1999

Respiro (2002), 95 menit, (Bahasa Italia dengan subtitel Inggris).
Sutradara Emanuele Crialese. Pemain: Valeria Golino, Vincenzo Amato,
Francesco Casisa, Veronica D'Agostino, Filippo Pucillo. UNTUK DEWASA

Grazia (Golino) adalah seorang ibu dari tiga anak yang berjiwa bebas.
Ia menikah dengan Pietro (Amato) seorang nelayan pemalu dan tinggal di
pulau terpencil Lampedusa di laut Mediterania. Ia menunjukkan gejala
manic depressive sehingga keluarganya ingin memasukkannya ke perawatan
pasien kejiwaan. Ia melarikan diri dan bersembunyi di sebuah gua di
dekat pesisir.

Critics Week Grand Prize and the Young Critics Award Cannes Film
Festival 2002, nominasi Best European Union Film at the César Awards 2004

Tilaï (1991),81 menit, (Bahasa More dengan subtitel Bahasa Inggris).
Sutradara Idrissa Ouédraogo. Pemain: Rasmané Ouédraogo, Ina Cisse,
Roukietou Barry, Assane Ouédraogo UNTUK 15 tahun keatas

Saga kembali ke desanya setelah dua tahun menghilang. Segalanya
berubah. Nogma, tunangannya, jadi istri kedua ayahnya. Tapi Saga dan
Nogma masih saling mencintai. Mereka bertemu dan bercinta. Bagi
masyarakat, Saga melakukan inces dan dia harus mati.

Grand Prix Cannes Film Festival 1990, Etalon de yennenga et Prix de la
meilleure musique Fespaco 1991
Kineforum Studio 1 Studio 21 TIM, Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat
10330. Tel. 021-3162780 (Petrus) email: kineforumdkj@yahoo.co.id  
website: www.dkj.or.id   

Program ini adalah kerjasama kineforum dengan Komnas Perempuan, RAHIMA, PEKKA dan Jaringan Perempuan Perdamaian Indonesia (PWAG Indonesia). Organisasi ini bekerja untuk perbaikan kehidupan dan harkat perempuan baik di komunitasnya maupun Indonesia secara keseluruhan.
Lihat jadwal bulanan dan program pemutaran kineforum di blog:


Rabu, 02 April 2008

SCREENING FILM DOKUMENTER “NOT FOR SALE !”

Judul Film:
NOT FOR SALE !

Sebuah Dokumentasi tentang perjuangan Serikat Pekerja di Indonesia
menghadapi proyek privatisasi yang menjadi agenda kapitalisme global

Produksi
Public Services International dan Media Nusa Communication, 2008

Produser: Wilson, Fendry Ponomban, FX Supiarso. Editor: Andreas Sitompul.
Juru Kamera: Fendry Ponomban, Andreas Sitompul. Riset: Wilson, FX. Supiarso.
Format: Mini DV, PAL, 16:9 (wide screen)
Running time: 40 menit

Screening

Selasa, 8 April 2008,
Kineforum, Studio 1
Taman Ismail Marzuki (TIM),
Jl.Cikini Raya No. 73 Jakarta 103310.
Pukul. 17.30-20.00 WIB.

Rabu, 23 April 2008,
GoetheHaus,
 Jl.Sam Ratulangi 9-15, Menteng, Jakarta
10350.phn.021-235 502 08

Pukul 17.00-20.00 WIB

====================
Sinopsis NOT FOR SALE !

Sejak Indonesia mendatangi Letter of Intent (LoI) dengan IMF pada tahun
1998, serangkaian program lembaga keuangan itu beroperasi dan dipaksakan
menjadi kebijakan ekonomi pemerintahan Indonesia. Akibatnya ekonomi
Indonesia semakin dipaksa untuk diliberalkan dan diprivatisasi.

Dokumentasi ini menceritakan bagaimana para anggota Serikat Pekerja di
 berbagai BUMN menghadang agenda-agenda liberalisasi di sektor-sektor publik.
Inilah kisah-kisah yang tidak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Kisah
pertarungan dan konsistensi serikat pekerja untuk tetap mengawal republik
yang sudah dan akan terus digadaikan oleh para penguasa yang pragmatis.

Format: Mini DV, PAL, 16:9 (wide screen)
Running time: 40 menit

Kontak panitia;
Nita, sekretariat PSI
Phn 021-350 3060
Email supiarso@gmail.com
medianusacom@gmail.com

NOT For SALE !

KISAH SERIKAT PEKERJA MENGHADANG PENJAJAHAN BARU

Proses integrasi negara-nagara berkembang kedalam perekonomian global berada
dalam hubungan yang timpang dan berat sebelah. Negara-negara maju dengan
dukungan Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), World Trade
Organization (WTO) dan perusahaan multi nasional mendikte proses
liberalisasi ekonomi dan privatasasi dengan skenario dan syarat-syarat yang
merugikan harkat, martabat, kemandirian, kepentingan nasional dan rakyat
negara-negara berkembang. Seluruh proyek privatisasi dan liberalisasi yang
dijalankan di negara-negara berkembang, seperti juga di Indonesia, lebih
tampak sebagai sebuah bentuk penjajahan baru atas sebuah bangsa daripada
hubungan ekonomi yang adil.

Indonesia sejak proses reformasi 1998 semakin terjerembab dalam lingkaran
setan proses privatisasi dan liberalisasi sebagai konsekuensi dari
penghambaan kepada kepentingan kapitalisme. Para penguasa dan elit politik
dinegeri ini lebih cenderung menjadi agen privatisasi dan liberalisasi
aset-aset ekonomi yang dikelola dan dimiliki negara dengan
pertimbangan-pertimbangan hukum pasar semata. Akibatnya soal kemandirian
bangsa dan kepentingan publik seperti yang diatur dalam pasal 33 UUD 1945
menjadi terabaikan.

"Not For Sale" adalah sebuah dokumentasi untuk memahami kondisi hubungan
perekonomian dan perburuhan kontemporer di bawah dominasi kapitalisme global
dan respon kaum pekerja sektor publik di Indonesia untuk menghadapinya.

Film ini diproduksi dengan dukungan dan partisipasi dari para aktivis
serikat pekerja yang bergabung dalam Serikat Pekerja PLN, Serikat Pekerja
Angkasa Pura I, Serikat Pekerja Pembangkit Jawa-Bali, Serikat Pekerja
Farmasi dan kesehatan, Persatuan Pegawai PT Indonesia Power dan Serikat
Pekerja PDAM.

Film ini juga menampilkan pandangan para intelektuil kritis yang prihatin
dengan proses terjun bebas privatisasi yang sedang disponsori oleh Negara.
Bahkan Dr. Revrisond Baswir dari Universitas Gadjah Mada secara sarkas
menjuluki privatisasi sebagai "rampokisasi".
Harapan kami, " Not For Sale !" dapat mengingatkan rakyat Indonesia, bahwa
soal menghadang privatisasi adalah tugas bersama rakyat Indonesia untuk
menegakan martabat dan kemandirian bangsa yang merdeka sebagaimana
dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini.

Penyelenggara:
Public Services International,
Dewan Kesenian Jakarta
Media Nusa Communication,
Kineforum
Perkumpulan Praxis,
Voice of Human Rights (VHR)

Selasa, 18 Maret 2008

Bedah Buku Sepatah Kata Kotor: Sekularisme di Asia

UNDANGAN DISKUSI BUKU

Rabu, 19 Maret 2008, pukul 09.30 WIB
Bedah Buku Sepatah Kata Kotor: Sekularisme di Asia
Pembicara: Frans Magnis-Suseno dan Jalaluddin Rakhmat
di Aula Madya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat
Kerjasama dengan BEM UIN

Sabtu, 22 Maret 2008, pukul 13.00 WIB
Bedah Buku Kandang dan Gelanggang: Sinema Kontemporer di Asia Tenggara
Pembicara: Arya Gunawan dan Veronica Kusuma
Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki
Kerjasama dengan rumahfilm.org dan Kine Forum

Senin, 31 Maret 2008, pukul 17.00 WIB
Bedah Buku Sepatah Kata Kotor: Sekularisme di Asia
Pembicara: Bambang Sugiarto dan Yudi Latif
Filsafat Universitas Parahyangan Bandung
Kerjasama dengan Nalar Institute

Kamis, 06 Maret 2008

Call for entries Coney Island Film Festival

indiefilmpage.com and Coney Island USA present the 8th annual Coney Island
Film Festival September 26- 28, 2008 at Sideshows by the Seashore and The
Coney Island Museum in the historic Brooklyn neighborhood Coney Island, New
York!

Regular Deadline April 25th, 2008 (postmarked) $25 entry fee.
Late deadline June 25th, 2008 (postmarked)
Extended late deadline July 3rd, 2008 (postmarked)

Enter early and save on the entry fee.

The Coney Island Film Festival is open to filmmakers working in ALL GENRES,
SUBJECTS AND FORMATS.

http://www.coneyislandfilmfestival.com
http://www.withoutabox.com/login/3441
http://www.coneyislandfilmfestival.com/entryform2.html

Rabu, 05 Maret 2008

Workshop Film Dokumenter untuk Bioskop

Documentary Cinema Workshop  2008
"INDONESIA - TEN YEARS AFTER REFORMASI"
proposed by the Goethe-Institut Indonesien
Tutor: Sebastian Winkels
Project Manager: Lisabona Rahman

Workshop profile
The workshop addresses equally to film directors, as well as to writers cinematographers, sound recordists and editors who are dedicated to develop professional skills in the artistic documentary field. The focus of the workshop is to improve the approach of storytelling, narrative structure, perspective, visual language, rhythm and technical apects of Indonesian documentaries in order to find better access to the international festival market.
 
The goal of the workshop is to produce three full length documentaries for cinema to be screened on JIFFest 2008. The films will be shot in HDV or DVCPRO HD.   Participants should apply by presenting former documentary (or other) works, directors/writers should also include their intended project ideas (outline status).
If possible they should apply together with their team (cinematography/sound/editing).

Passive English language competence is required.

Up to twenty workshop participants (five film teams) can join. Each team develops one documentary project until treatment status. Three projects will then get selected and go into production.

The workshop is divided into five sections.
The timeframe of the workshop is from April until December 2008.

Workshop structure
1) Theoretical Part (April, 3 weeks)
Introduction of different documentary film genres. Screenings & discussions.
Introduction to film analysis.
Presentation and discussion of Indonesian documentaries (also: former works of participants). Comparison with international films of similar genre or topic.
Focus on storytelling, different use of stylistic means, shooting methods and technical aspects. Presentation of new project ideas (outlines)
Discussing, writing and presenting the new projects exposés.
Defining further research methods and goals.

Between workshop section 1 and 2:

Individual project research.

2) Writing of treatments (June, 3 weeks)
Presentation of research results. Accompanied research (trips). 
Story development. Additional screenings of film references and discussions.
Pre-visualize the project: defining the narrative approach of directing, cinematography, sound & editing, use of formats/stylistic means, technical aspects.
Writing the treatments.
Meeting the producers. Pitching and discussing the treatments with them (Specification of production needs. Set up Budget Plans & shooting schedules).
Selection of projects to be produced.
Practical exercises with professional shooting equipment (The selected teams
are shooting a sample scene).

Between workshop section 2 and 3:

Editing of sample scenes.
Pre-production of shooting phase.

3) Shooting phase (August, 3 weeks)
Presentation and discussion of sample scenes.
Preparation of shooting phase (together with the producer). 
Parallel shooting of documentaries starts. Maximum shooting period is five weeks.
Installation of editing facilities.

Between workshop section 3 & 4:
 
Shooting finishes until mid September.
Start the editing process: Digitizing, viewing, organizing and transcribing the material. Editing a first rough cut.

4) Editing phase 1 (October, 3 weeks)
Presentation and discussion of rough cuts.
Intensive editing process, evaluating and solving dramaturgy problems, defining narrative structures.


Between workshop section 4 & 5:
Editing continues.

5) Editing phase 2  & Presentation at JIFFest (November, December 4 weeks)
Finishing the final cuts.
Preliminary online status: sound editing, mix down, color matching.
Translation and subtitles.
Play out on HDV Tape or better format.
Prepare a presskit.
Premiere at JIFFest.

!!Definetely Maybe!!
6) Postproduction of sound and picture during Berlinale Talent Campus (February 2009)
Eventually transfer one or all three projects to Berlin and work with professional sound editors, mixing engineers and online editors to finish the films according to international quality standard. Showcase the works to an international audience and professional partners.

Dutch Film-makers Butuh Researcher/PA

There are two Dutch film-makers who plan to make a documentary about Indonesian Resistance against Japanese 1942-1945. There will be three sides of the story: Dutch, Japanese and Indonesian.
They would like to film about PETA Revolt in February 1945 against Japanese in Blitar.
So, these Dutch film-makers need a Researcher/Production Assistant who:
- speaks and writes excellent English
- understands their needs in film-making
- can find the historians and veterans about this subject
- can find the access for pictures and film footage about the revolt.

They will come to Indonesia end of May or beginning of June. They will be filming in Blitar for a few days.
Anybody who is interested in this position, please send CV to Ria Ernunsari in bhooly@hotmail.com not later than 15 March 2008.

Thank you,

Ria Ernunsari